Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Maret 2015

Balada Kantor Gue

Muka ryan merah lebam seketika. Wajah lusuhnya itu dibaluti rasa malu. Sedangkan mereka dengan puas terbahak-bahak menertawakannya. Ryan orang yang selalu berpakaian tak pernah rapi tersebut memang digadang-gadang selalu dijodohkan dengan putri anak magang yang baru saja masuk ditempat kerjanya tersebut.

          " Katanya mau minta pin bb nya putri ? " Ucap anto, pria berkulit hitam itu melontarkan singgungannya pada ryan, Anto adalah teman satu ruangan dengan ryan.

          " Tadi katanya nanyain putri, sekarang diam saja " sahut lia salah satu anak magang yang juga teman dari putri. Tertawanya lepas.

          " Bohong putri, siapa yang bilang minta pin bb orang cuma minta Whattsap doank kok " Sangkal ryan sambil sibuk memainkan komputernya. Mereka tertawa terbahak-bahak seketika. Ryan menggaruk-garuk kepalanya. Sedangkan siputri menyibukkan diri tenggelam dalam ponselnya. Menahan malu.

          " Mana pin bb nya putri, kasian tuh pak ryan nanti kebawa mimpi " Lanjut anto dengan antusias. kali ini putri menoleh pada anto. Sesekali putri melirik ryan. Ryan masih disibukkan dengan komputernya.

          " Ciee merah mukannya pak ryan " sambut nadya anak magang yang juga teman putri dan lia. Ryan langsung memegang wajahnya dan menggosok-gosoknya berharap wajah merahnya memudar.

          " Jangan putri, jangan dengerin mereka " Sekali lagi sangkal ryan.

         " Tuh orang pak ryan nya gak minta " Jawab putri. matanya melirik tajam ryan. Ryan juga melakukan hal yang sama. Hingga mereka bertemu pada satu pandangan yang sama. Satu pandangan yang tajam dan kemudian dipatahkan dengan masing-masing kesibukan awalnya. Ryan dengan komputernya sedangkan putri dengan ponselnya. Mereka menahan malu.

          " Beneran nih gak mau, tadi pak ryan minta loh benaran put, dia aja yang sok jaim sekarang " Dengan mantap lia berucap. Ryan masih mengutak utik komputernya. Wajahnya mengernyit.

          " Orang pak ryan bilang gak koq tadi " Jawab putri simple.

          " Ntar nyesel loh, ntar kebawa mimpi loh " Ucap anto. Seketika mereka tertawa terbahak-bahak besama lagi. Sebelum akhirnya putri, lia dan nadya meninggalkan ruangan dan pulang.

Senin, 23 Februari 2015

Merajuk

          " Kamu selalu dibicarakan mereka saat kami berkumpul !! " Ungkap minah lesu. Wajahnya ditundukkan sesaat seperti tak ada kerelaan membicarakan ini padaku.

          " Bagus dong, itu tandanya aku seperti artis yang diperbincangkan dalam infotainment " Candaku pada minah. Wajahnya langsung jelek tak terupa. Rupanya rasa jealous sudah memutar dikepalanya. Sambil memutar-mutar handphone nya. 

          " Jadi kamu suka dibicarakan mereka, kamu tuh isshh !!!! " Dengan nada cukup kesalnya minah berucap. Kali ini dia memalingkan wajahnya. Menutup raut wajah jealous nya yang kini bercampur dengan amarahnya. Sedangkan aku masih asik memainkan game di gadget. Sambil sesekali aku lirik minah dengan wajah emosi plus jealous nya itu.

          " Trus, aku harus berbuat apa ? " Tanyaku pada minah. Sambil masih memainkan game di gadgetku. Minah masih memalingkan wajahnya. Tangannya kini membuka memainkan hanphonenya untuk mengurangi kejenuhan.

          " Terserah kamu sajalah " Tanda tak perduli minah. Sesungguhnya minah perduli. Namun dia hanya berpura-pura tak perduli hanya ingin supaya aku perduli. Perduli akan jealousnya dia. Perduli pada rasa yang sudah dia pendam begitu lama.

          " Hey, Kamu kenapa sih tumben banget begini ? Lihat aku " Kali ini aku mengabaikan game yang sedari tadi aku mainkan. Aku hanya ingin melihat wajahnya yang penuh rasa cemburu. Meski minah masih membelakangiku aku merasakan hangatnya rasa cemburu. ya, rasa cemburu yang besar akan cintanya padaku. Minah tak ingin kekasih hatinya dibicarakan oleh orang lain. Aku beranikan diri untuk mendapati wajahnya dengan tanganku. membalikan badannya hingga ke arahku. " Kamu cemburu ya ? " aku langsung tersenyum.

          Minah semakin marah. Tak seharusnya aku meledeknya disaat dia dalam keadaan marah. wajahnya langsung berpaling kembali. Tubuhnya pun kembali membelakangiku. Dengan tangan kanannya yang terpagu pada dagunya. Sedangkan tangan kirinya kembali asik menscroll-scroll gadgetnya kembali. " Sudahlah lupakan pembicaraanku tadi " Nada orang-orang yang ngambek. Hal yang biasa wanita lakukan.

          " Ya sudah !!! " Aku kembali memainkan game yang sedari tadi aku mainkan.

          " Kamu tuh ya gak pernah ngerti perasaan aku, gak pernah peka apa yang aku rasakan, kamu tuh kebangetan banget sih !!! " Seperti melabrakku nada tingginya menghampiriku. Aku yang sedang asik memainkan game mendadak berhenti sesaat dan melirik minah.

          " Tadi kata kamu lupakan saja " Jawabku lembut. Tak membalas kata-kata yang bernada tingginya. Kali ini minah berdiri dari tempatnya bersandar.

          " Ya sudah aku pulang aja, bete sama kamu !! " Mencoba pergi dari tempat kita duduk bersama. Raut wajahnya kali ini penuh rasa kecewa. Memerah param. Namun cantiknya masih aku rasakan. Memang aku menyukainya ketika sedang marang. Dikemarahannya itu raut wajah cantiknya yang alami terpancar dari minah. Dan aku menikmatinya.

          " Hey, iya oke, kita bisa bicarakan baik-baik yah, kamu duduk lagi, sini, jangan emosi gitu donk !! " Aku menarik tangannya. Aku masih memandangi wajah muram bercampur kecewanya yang cantik. Minah menurutinya. Dia kembali duduk disampingku. dengan tangannya yang terpagu kembali di dagunya. Sedangkan tangan yang lainnya mengasikkan kembali dengan handphonya. Aku kembali bertanya pada minah. " Kamu mau aku gimana ? "

          " Gak tau, Suka-suka kamu sajalah " Minah menjawabnya masih dengan nada kesalnya. Rasa cemburu ditambah kesal ditambah murung dan kecewa sudah melebur menjadi satu.

          " Ya sudah, kamu jangan marah ya, nanti aku bilang sama mereka biar mereka gak bicarakan aku lagi, gimana ? " Saranku pada minah. Sepertinya dia antusias dengan apa yang aku lontarkan padanya. dia mengankat wajahnya yang sedari tadi tertekuk bengkok. hehe.. !!

          " Kamu serius ya, gak bohong ? "

          " Iya aku serius, janji " mulutku tersenyum lebar. Agar minah bisa kembali tersenyum.

          " Aku pegang janji kamu "

          " Nah gitu donk, senyumnya mana ? " Aku memintanya untuk kembali ceria seperti sebelumnya aku mengenal minah. Diapun melontarkan senyumnya padaku. Seperti dipaksakan, namun ya sudahlah mungkin minah masih terselip rasa cemburunya.

          " Terus, Kamu mau bilang apa ke mereka ? " Tanya minah kembali.

          " Aku akan bilang ke mereka, 'Hey kenapa kalian sering ngomongin gue, emang gue ganteng tapi jangan diomongin juga kali. Kalau kalian suka sama gue, ya kalian juga boleh jadi pacar kedua gue', Aku bakal ngomong gitu ke mereka, hehehe...!!! " Jawabku.

          Minah kembali merajuk dengan wajah cembetutnya yang aku suka.

Selasa, 11 November 2014

Air mata si kecil

Si kecil bersedih. Bergumam muram dari raut sendunya. Menangis pilu, menghardik diri dari kesalahan masa lalunya. Ya, dari kesalahan fatal yang dia hadapi ketika masih menjalin status hubungan dengan seseorang yang dikasihinya dulu. Tangisnya menggema keseluruh penjuru nadi. Hingga isaknya menghanyutkan aku dalam empati hidupnya. Aku lemah. Aku pun berduka. Ikut merintih lirih tanda ibaku pada kecil.

Tentang masa lalunya. Cinta yang tak pernah bisa dia lupakan dalam lima bulan terkahir ini. Malam ini tangisnya penuh harap. Penuh rindu kepada sang mantan yang tersayang. Sambil melirik seutas foto yang discrol scrol dalam gadgetnya. Wajahnya lebam, telah habis di koyak koyak oleh tetesan air matanya. Sendu, sungguh sangat sendu. Aku merasakan hal itu.

" sudah tak ada lagi yang bisa buat hidup aku bahagia " selirik kata keputusasaan dari si kecil yang aku petik. Sambil menarik ulurkan nafasnya dari isak tangia yang hebat. Air matanya masih mengucur deras. Tak tahu sudah berapa tisu habis dipakainya.

"Sabar ya ndo.." rayu indah. Sang kakak yang setia menemaninya. Indah hanya dianggap kakak oleh kecil. Sedangkan ibe hanya terpaku dalam diamnya. Sesekali dia melirik tanda simpatik.

Si kecil mengasingkan diri. Keluar dari ruangan tempat aku dan mereka berkumpul. Masih dalam tangisnya. Aku mengejarnya. Bicara padanya, hanya empat mata.

"Aku gak kuat bang emenk" nangisnya makin menjadi. Aku hanya bisa menatap wajahnya. Aku usap pipinya yang sudah basah dengan air mata nya.

"Iya aku paham, biar semua berjalan semestinya. Dan kamu akan memahami semua ini nanti" tukasku padanya. Sambil aku usap kembali air matanya.

Aku memahami si kecil. Bukan karena terlalu cengengnya dia. Hanya karena betapa beratnya si kecil menghargai masalah yang terjadi. Aku harap kamu bisa mengerti dan mengambil pelajaran dari masa lalu kamu kelak nanti.

Peri kecil sedawai mimpi

Sabtu, 09 Februari 2013

Sisa Selebrasi Semalam

Tiga hari sudah aku tak bertegur sapa. Ya, dengan siapa lagi kalau bukan dengan pacarku sendiri. beberapa hari ini kami tak saling mengabari karena ada satu hal yang tak kami inginkan. memutuskan hubungan.

Terang saja aku sangat kecewa. Kebohongannya saat itu membuat hatiku tak lagi lunak. Bahkan perangaiku berubah total menjadi sorang pemarah. Aku tau sifat itu salah. Bahkan tak dianjurkan dalam suatu hubungan. Namun karena sikapnya yang seakan tak perduli membuat aku benar-benar harus bersikap seperti itu.

Ku tahu kabar dia sudah tak makan 2 hari dalam status facebooknya. Ditambah yakin dengan SMS yang dikabarkan dari adiknya. Semakin aku terperangai seakan tak percaya, Bodohnya dia lakukan seperti itu hanya karena masalah sesaat ini.

Dalam sendunya aku kerja dia sms aku. terhenti sejenak seakan terseguk antara senang dan tak perduli. Dia hanya mengatakan singkat, ingin ketemu dan mengembalikan suatu barang yang pernah aku beri buat dia.

" Aku ingin ketemu, ada yang mau aku kembalikan " ungkapnya dalam sms.

" Barang apa ? " tanyaku antara peduli dan tidak.

" Boneka " balasnya.

" Bakar aja, gapapa koq " jawabku nada kesal.

" Gak, aku cma pengen balikin kekamu "

" ya udah kasih ke orang laen, nanti biar dia yang kasih ke aku "

" Aku cuma mau kasih kekamu, kalau kamu udah ga ada rasa sama aku kenapa mesti takut ketemu aku " ungkapnya lagi dengan menggunakan emoticon sedih.

" Oke, nanti aku temuin kamu, dimana ? "

" Di Sevel Olimo lantai 2 jam setengah 7 "

" oke, nanti aku kesana "


Setelah pulang kerja, tanpa fikir lagi aku langsung cabut kesana, disevel olimo aku parkir dan tak kulihat motornya, aku sempetin beli soft drink dan langsung menuju lantai 2, dari tangga yang ku daki kuputar arah mataku kekanan dan kekiri. kudapati dia duduk menungguku. terdiam hening. aku menghampiri dan ambil posisi duduk tepat dihadapannya. aku lihat wajahnya, ya Tuhan, Kusam pucat, bukan main, separah itukah kau ku tinggalkan 3 hari.

Masih tetap hening. Melihat wajahnya aku tak sanggup berkata-kata. Dia tersenyum, dan mengeluarkan boneka pemberianku waktu itu. Tiba-tiba air mata itu menetes dipipinya. Ya Tuhan, aku makin miris melihatnya. Inikah perpisahan. Sambil memberikan boneka itu padaku seraya berkata.

" Udah kan... " dengan suara yang begitu serak pelan, hampir tak terdengar dan lalu meninggalkan aku dengan pipi yang telah basah dengan derasan air matanya. lalu menjauh. Aku tak mengejarnya, Terdiam sejenak dan menghela nafas.setelah itu baru aku mulai mengejarnya, sampai didepan sevel aku tarik tangannya hingga aku saling bertatapan dengannya. menatap matanya yang basah dengan air matanya.

" Aku emang salah sama kamu, aku tuh udah bohongin kamu dengan tololnya aku, aku tuh ga ngapa-ngapain, aku cuma liat tas yang aku pengen di CBD kemaren, aku minta maaf sma kamu " Dia mulai pembicaraannya, sedihnya makin dalam, air matanya tak berhenti berderai. Ya Tuhan,,,

" Yang aku ga suka kenapa kamu ga jujur sama aku, kita ini punya hubungan, klo ga jujur mending kita ga usah seperti ini, dan terang aku kecewa sama kamu, ngerti " ungkapku yang teringat kebohongan dia kemarin, aku melanjutkan pembicaraanku, " Ya udah, kamu pulang ya, aku anterin ? "

Dia tak menjawab, masih dengan air matanya yang deras. aku lanjutkan pembicaraanku.
" Kalau kamu ga mau aku anterin, aku pulang duluan ya, maaf " langsung kutinggalkan dia dipinggir jalan sendirian dalam kesedihannya.

Belum jauh dari tempat kami bertemu, aku berhenti sejenak di pom bensin, ada hal yang ga aku enakkin dari filling ku. aku tunggu sekitar 20 menit disana. Dan ternyata benar. Handpone ku berdering. Sms yang masuk, dari dia. Aku segera membacanya.

" Makasih, Niat aku udah terlaksana, Kalau ketemu kamu hari ini, aku bakalan  jalan dari Olimo sampai rumah, dan sekarang terwujud, dan makasih atas waktunya. " Ya tuhan, Aku tak kuasa. aku menangis dalam diam. Aku ga tega liatnya yang pucat dan harus memaksakan jalan dari olimo kekali deres dengan jalan kaki. Sesegera mungkin aku telpon dia. pertama tak diangkat. yang kedua kalinya baru diangkat.

" Kamu dimana,,, ? " Nada cemasku.

" Aku diroxi " jawabnya sendu.

" Oke, Jangan jalan lagi, aku kesitu, tolong tunggu aku, jangan kau paksain jalan kaki " aku langsung bergegas melunucr kesana.

Sampai arah roxi aku temui dia sedang berjalan kaki, masih dengan muka pucatnya yang dibaluri dengan air mata. Aku parkir motorku. Dan langsung menghampirinya. Aku lihat wajahnya sejenak.

" Kamu bodoh ya, Sumpah bodoh banget, ga sampe segininya kmu siksa tubuhmu itu... "
dengan nada bercampur aduk sedih dan marah aku berkata-kata. Dia tak menjawab, Seketika dia peluk aku. Pelukan yang tak pernah aku rasakan lebih. Masih dalam tangisnya dia berucap.

" Maafin aku,,,, :'( " Oh Damp, Ya Tuhan, Apalagi yang aku jawab untuk menolak kata maafnya.

Aku tak kuasa, aku peluk dia juga, dan akupun berucap dengan sendu pula.

" Iya, aku maafin, Dan tolong janji sma aku jangan ulangi perbuatan iru lagi... " Dia hanya mengangguk tanda sanggup. setelah itu kita cari makan, karena aku tau dia lapar karena belum makan 2 hari.

Sisa Selebrasi semalam, Thanks for misro, kau terlalu berani untuk gila,,,,, 



Jumat, 27 Januari 2012

“ Kado Ulang Tahun Terindah “



Sudah satu setengah tahun dia meninggalkanku. Aku menggenggam sepi atas rinduku padanya. Sesungguhnya diriku menolak untuk berpacaran jarak jauh. Tapi beasiswa itu yang memisahkanku padanya. Rendra memutuskan untuk mengambil kesempatan yang terbilang langka itu. Kesempatan untuk melanjutkan studi S2 nya di Universitas negeri di Yogyakarta.

Sebenarnya ini bukan kesalahannya. Semua karena cita-citanya, sampai harus meninggalkanku setelah enam bulan kita berpacaran. Kini hampir dua tahun kami jadian. Namun sudah lima bulan terakhir Rendra tak pernah mengabariku. Bahkan yang biasanya dia mengingatkanku untuk jangan tidur hingga larut malam. Kini tak ada lagi sms itu. Berkali-kali ku hubunginya, hanya untuk mengingatkannya kalau besok adalah hari anniversary kami yang kedua, yang juga bertepatan dengan hari ulang tahunku yang ke-22. Tapi tak juga Rendra membalas smsku.

"Aku ingat waktu pertama kali Rendra nembak aku." sambil tersenyum sipu aku melamunkan hal itu. Ketika itu Rendra membawa aku ketaman kota dengan ketujuh belas anak didiknya yang masing-masing ditangannya menggenggam balon gasnya yang bertuliskan huruf-huruf disetiap balonnya. Mereka mensejajarkan dirinya dengan susunan huruf dibalon-balon mereka hingga membentuk sebuah kalimat yang terindah dalam hidupku.

"RISYA AKU SAYANG KAMU." itulah kata-kata yang selalu kuingat di otakku. Rendra pun menegaskannya.

"Maukah kamu jadi pacarku!?" sebuah pertanyaan yang tak mungkin aku menolaknya saat itu. Akupun mengiyakannya.

Tapi kini Rendra menghilang bagai ditelan bumi. Dimanakah kau sekarang Ren? Aku cemas, aku rindu, jiwaku tercabik. Rinduku rindu setengah mati. Seperti yang dinyanyikan oleh D'Masiv. Apa yang kau lakukan disana sampai-sampai kau tak pernah mengabariku? Apa kau telah menemukan tambatan hati yang lain? Dengan segera ku sangkal pertanyaan itu. Rendra telah berjanji padaku akan selalu mencintaiku.

Hari ulang tahunku pun tiba. Seharusnya hari ini adalah hari bahagia dalam hidupku. Justru kado pahit yang aku terima. Tentang Rendra, tentang seorang laki-laki yang telah mengucapkan cintanya dua tahun yang lalu tepat pada hari ulang tahunku. Sesungguhnya aku hanya inginkan kejadian dua tahun itu singgah padaku hari ini. Namun Rendra telah menghilang. Aku bersedih, menangis hanya mengharapmu kembali dihadapku.

"Selamat ulang tahun, sayang!" mama mengucapkannya padaku.

"Makasih mah." ku balas ucapannya. Setelah itu aku dan mamapun berdoa tentang harapan dalam hidupku. Tak berselang lama, mama bertanya padaku. Pertanyaan yang canggung ku jawab, yang sulit untuk dibahas. Yang membuatku tertekan memikirkannya.

"Kamukan sudah besar, umur kamu semakin bertambah. Kapan kamu mau cari jodoh, kamu sudah harus memikirkan untuk menikah?" tanya mama padaku. Jelas saja mama tak tahu kalau aku sedang menjalin hubungan dengan Rendra. Dua tahunku berpacaran dengan Rendra, tak sekalipun aku mengenalkannya pada mama. Rendra selalu menolak jika aku ingin mengenalkannya pada mama. Alasannya sih simpel, dia belum siap. Terlebih dengan kepergiannya ke yogyakarta. Tak ada waktu lagi untuk aku bisa mengenalkannya pada mama.

"Aku masih ingin kuliah, ma!" tepisku pada mama.

"Iya tapi mau sampai kapan?" mama mendesakku dan melanjutkan pembicaraannya." Mama mau kenalkan kamu dengan anak teman mama" oh damp... Mama mau menjodohkanku. Kagetku bukan main.

"Enggak ah ma, aku ingin cari jodohku sendiri." sekali lagi tepisku pada mama.

"Tapi ini beda..!!" mama kembali merayuku.

"Beda bagaimana maksud mama?" tanyaku.

"Kamu kenal kok orangnya, dia Yoga, kak Yoga teman main kamu masih kecil dulu, masih kenalkan?" apakah benar ini. Kak Yoga. Masih jelas kuingat ketika aku kelas satu SD. Kak Yoga empat tahun lebih tua dariku. Dia begitu baik padaku. Tak jarang dia selalu menolongku saat aku dalam kesusahan. Dan yang paling aku ingat ketika hari ulang tahunku yang ke-7 dia berkata padaku, kalau dia akan selalu menjagaku. Tapi janji itu ternyata palsu. Dan sekarang dia kembali hanya untuk meletakkan janji itu diatas kepalsuannya.

"Bulshit." pikirku.

"Iya ma, tapi aku gak mau kalau dijodohkan seperti ini. Inikan bukan dijaman Siti Nurbaya lagi." aku menyangkal perkataan mama.

"Siapa yang mau menjodohkan kamu, mama cuma mau ngenalin kamu dengan kak Yoga kecil kamu dulu" mama mempertegas perkataannya.

"Oh...Iya ma, terserah mama saja..!" akhirnya aku mengalah dan mama pun mengundang kak Yoga dengan keluarganya kerumah nanti malam. Aku tak bisa menolaknya. Hanya saja aku memegang janji mama yang hanya memperkenalkan aku dengan kak Yoga kecilku itu.

"Kriiing....!!" handphone ku berbunyi. Dengan segera aku mengangkatnya.

"Halo... Siapa ini?".

"Benar ini Risya...?" dia menjawabku. Suaranya tak asing buatku. Sepertinya aku mengenal suara itu.

"Iya saya sendiri, maaf ini siapa ya?".

"Ini aku Ris, Rendra. Pacar kamu." benar dugaanku suara yang tak asing lagi buatku. Suara Rendra.

"Rendra, kamu kemana aja? Gak pernah ngabarin aku lagi. Aku kangen sama kamu. Apa kamu udah gak sayang lagi sama aku?" seketika itu juga aku menjawabnya dengan mataku yang mulai mengkristal. Rinduku terobati sedikit.

"Maafkan aku Ris, kalau aku gak pernah ngabarin kamu selama ini. Kamu apa kabar?" jawab Rendra dengan nada rendahnya.

"Aku baik Ren, kamu gimana?" sahut balikku.

"Aku juga baik Ris. Sekarang aku ada diJakarta."

"Kapan kamu balik Ren?"

"Seminggu yang lalu Ris."

"Kenapa sih kamu gak ngabarin aku kalau kamu lagi diJakarta. Kamu gak tahu apa perasaan aku kayak gimana. Sakit tahu gak..!" dengan kesal aku menjawabnya.

"Sekali lagi aku mohon maaf Ris. Panjang ceritanya. Kita ketemuan ya ditaman kota jam 5 sore. Nanti aku ceritakan semua."

"Ok Ren, nanti aku datang." jawabku.

"Ya sudah Ris, sampai ketemu nanti yah, love you..."

"Love you too..." Rendrapun menutup teleponnya. Senang ku bukan main. Hampir enam bulan tak ada kabar. Sekarang aku ingin bertemu dengannya.

"Akhirnya kado terindah itu datang juga..." kado...!!!? Ya Tuhan, aku lupa memberi tahu dia, hari ini kan tepat anniversary kami yang kedua. Kenapa aku bisa lupa? Ah mungkin karena saking senangnya aku hingga aku lupa akan hal itu. Apa aku bikin kejutan untuknya saja? Ide yang bagus. Semoga Rendra senang akan hal ini.

Jam 4 sore. Aku sudah berada ditaman kota. Sengaja aku datang lebih awal. Karena aku ingin mempersiapkan kejutan untuknya. Kejutan yang sederhana, tapi akan selalu mempersatukan cinta kita. Semoga kamu senang Ren atas kejutan yang aku buat ini.
Sudah jam 5 lewat 15 menit. Rendra belum juga datang. Kulirik keseluruh penjuru taman berharap mataku menemukannya. Tapi tak jua ku temukan. Mungkinkah Rendra berbohong padaku? Aku rindu kamu, Rendra. Tolong...!! datanglah Ren. Hatiku menangis.

"Risya..." suara lembut itu. Rendra dimana kamu? Ku lihat lagi ke sekeliling taman. Tak ada! Mungkin halusinasi ku saja.

"Risya..." suara itu lagi. Kali ini bukan halusinasi. Itu Rendra, dia datang. Dengan segera aku berdiri dari tempat dudukku dan langsung memeluknya.

"Rendra, kamu jahat. Sakit rasanya Ren. Aku gak bisa tanpa kamu. Kamu gak akan ninggalin aku lagi kan?" ucapku dengan terisak. Ditambah air mata yang telah membasahi baju dalam peluknya.

"Iya Ris, kita duduk dulu ya." bisik Rendra. Dengan tenang dan rasa simpatiknya dia memapahku.

"Ris... Aku...!".

"Oh iya, aku ada kejutan buat kamu?" aku memotong pembicaraannya. "Kamu lihat ya."

"Anak-anak ayo kesini." ku panggil mereka. Seperti halnya dua tahun yang lalu Rendra berikan padaku. Kali ini aku yang melakukan hal itu. Dengan kedelapan belas anak didikku yang masing-masing membawa balon dan mensejajarkan dirinya dengan balon-balon yang masing-masing mempunyai huruf-huruf dan membentuk suatu kalimat. "RENDRA AKU RINDU KAMU."

"Gimana Ren, bagus tidak." tanyaku pada rendra.

"Bagus Ris, ba... gus... sekali, hal yang pernah aku lakukan dulu, kini kamu membalasnya." masih dengan suaranya yang berbisik itu rendra menjawabku. "Tapi... Ris... aku...".

"Oh iya, mumpung kamu disini, sekarang aku mau kenalin kamu sama mama aku." sekali lagi aku selak pembicaraannya. "Mama mau mengenalkan aku sama anak temannya, dia teman kecil aku dulu, sepertinya mama mau menjodohkan aku dengannya. Tapi aku gak mau, aku gak bisa hidup tanpa kamu. Aku sayang sama kamu Ren. Aku ingin kamu kerumahku. Supaya mama tahu kalau aku sudah punya pilihan lain, yaitu kamu." jelasku padanya. Sambil kumanjakan diri dengan mensandarkan kepalaku ke bahunya.

"Mama kamu benar Ris, kamu harus taat sama dia." ucap Rendra. Sesaat ku angkat sandaranku padanya.

"Maksud kamu apa Ren?" heranku mendengar ucapannya.

"Kita sudah tidak cocok lagi, aku gak bisa pacaran jarak jauh, aku ingin kita...!!! Putus..." apa...! penjelasannya mengguncang ragaku. Hatiku tercabik, bagai sebilah pedang menusuk tepat dijantungku.

"Enggak Ren enggak...!! Aku gak mau putus sama kamu." jawabku terisak pilu. Air mataku menetes.

"Salah ku apa? Aku sudah rela berkorban untuk kamu. Sampai-sampai saat kamu melanjutkan S2 mu ke Jogja. Aku mengizinkannya walaupun hatiku menolaknya."

"Kamu gak salah Ris. Aku yang salah. Aku gak bisa pacaran jarak jauh." nada bicaranya meninggi.

"Gak mungkin, gak mungkin cuma karena jarak jauh ren, jelasin Ren, kenapa kamu mutusin aku."

"Oke...oke...asal kamu tahu, bukan masalah jarak jauh. Tapi karena aku sudah menemukan cinta sejatiku. Ris, maafkan aku Ris, dan terima kasih karena kamu adalah pacarku yang terbaik. Jaga diri kamu...!!" setelah berucap Rendrapun meninggalkanku.

Aku hanya bisa menangis, bersedih tanpa batas atas lukaku dihati. Rendra adalah orang terkejam yang pernah aku temui. Kali ini sakit, sakit rasanya hati ini. Aku patah hati. Cuma menangis yang bisa kulakukan saat ini. Menangis menyesali dua tahunku berpacaran dengannya. Menangis untuk menerima kado terpahit yang telah ku terima dari rendra.

Sepulang aku kerumah. Dengan perasaan yang dalam atas penghianatan Rendra padaku. Kulihat mereka telah datang. Kak Yoga sekeluarga. Tanpa salam aku tak menghiraukan mereka semua dan langsung masuk kekamar. Ku hentakkan tubuhku kekasur. Air mataku terjatuh. Lagi-lagi yang terfikir Rendra.

"Kamu jahat Ren. Tapi aku sayang kamu." itu sepenggal kisah dihatiku bergulat. Tak bisa kulepas.

"Kamu kenapa Ris?" tanya mama padaku Setelah melihatku menangis.

"Gak apa-apa ma, cuma kelilipan." aku berbohong pada mama.

"Kelilipan...!!" mama langsung tertawa. "Mana ada kelilipan sampai tersedu seperti itu. Kamu habis putus sama pacar kamu ya." tanya mama padaku. Kok mama bisa tahu ya?.

"Kok... Mama tahu!."

"Mamakan juga wanita, mama pernah seperti kamu dulu."

"Benar itu ma?" tanyaku kembali.

"Iya benar, tapi mama tetap tegar karena mama gak mau dibilang wanita cengeng." cerita mama padaku.

"Tapi, rasanya sakit banget. Aku gak bisa setegar mama."

"Sini sayang." langsung saja aku bersandar di paha mama, dan mamapun membelai-belai rambutku.

"Rasa sakit itu pasti ada. Semua manusiawi. Tapi orang yang tegas adalah orang yang mampu menyimpan semua itu walaupun berat." jelas mama.

"Iya ma, aku jadi ngerti. Aku akan coba seperti apa yang mama katakana." aku ingin seperti mama, menjadi orang yang tegar.

"Sekarang kamu ganti baju ya. Terus kamu temui keluarga kak Yoga. Kamu mau kan?" rayu mama padaku

"Iya ma…."

Mereka sedang asik mengobrol tentang suatu hal. Kulihat mereka dari kejauhan. Tapi ada yang asing? Kak Yoga tak terlihat. Sepertinya hanya kedua orang tuanya saja. Lebih bagus seperti itu. Karena aku sedikit canggung kalau ada kak Yoga.

"Om... Tante..." sambil kuciumi satu persatu tangan mereka. Mereka meresponnya.

"Oh ini toh risya, sudah besar ya sekarang. Makin cantik lagi jeng. Yoga kalau melihat kamu naksir nih." kata ibu kak Yoga. Dia terlalu memujiku. Jadi malu aku.

"Ah biasa aja jeng..." ibuku menyahutinya.

"Risya ya, masih kenal sama om gak?" tanya ayah Yoga.

"Masih dong om." jawabku.

"Yah, biarpun dulu masih kecil, ingatannya sudah kuat loh. Anak siapa dulu!" dan merekapun tertawa setelah mendengar percakapan ayah itu. Kami mengobrol, bercanda dan tertawa tanpa kehadiran kak Yoga disini. Kata mereka kak Yoga akan menyempatkan mampir. Begitu ucap mereka.

"Jeng-jeng, kayaknya ada pengamen..!" ibu kak Yoga mendengarkan suara dari luar rumah. Sepertinya benar. Tapi aneh, kenapa malam-malam seperti ini ada pengamen.

"Iya, Ris coba kamu lihat deh." mama menyuruhku melihatnya.

"Iya ma..." aku langsung bergegas melihatnya. Ada yang janggal. Masa malam-malam ada pengamen. Tapi merdu, suaranya bagus. Lagu ini tak asing lagi buatku. Lagu dari D'Masiv - rindu setengah mati. Lirik-lirik itu menyentuhku. Aku ingat saat-saat aku masih merindukan Rendra.

"Aku... Rindu... Setengah mati kepadamu... Sungguh ku ingin kau tahu... Ku tak bisa... Hidup tanpamu... Aku rindu..." itu yang saat ini aku dengar.

Aku buka pintu rumahku. Ku lirik tepat seorang pria muda yang berdiri tepat didepan rumahku. Dia menangis sambil menyanyikan lagu itu. Kepalanya tertunduk dengan topi yang menutupi wajahnya. Begitu dihayatinya lagu itu.

"Risya..., aku rindu sama kamu...!" ucap orang itu sambil membuka topinya. Dan ternyata..., ternyata dia..., ternyata dia Rendra. Air mataku mengalir. Segera aku berlari kearahnya dan langsung memeluknya.

"Aku juga Ren." kata-kataku tercampur dengan tangis.

"Selamat ulang tahun, Risya..., dan juga hari jadi kita berdua." Rendra mengucapkannya. Rendra ingat ulang tahunku.

"Ternyata kau ingat semuanya, aku salah menilaimu Ren." sesalku.

"Sampai kapanpun aku akan ingat selalu." tegas Rendra.

"Oh iya Ren, aku mau kenalin kamu sama orang tuaku. Kamu mau kan?" pintaku pada Rendra. Semoga dia menyetujuinya. Ku lihat dia hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"Enggak usah kamu kenalin juga mama sudah kenal." tiba-tiba dari dalam rumah. Mama menyahutiku.

"Apa kamu lupa siapa dia." apa maksud mama?.

 "Mama ngomong apa, sich? Ada apa ini Ren? Kok semua cuma senyum sich?" aku bingung, apa yang terjadi?.

"Rendra itu, kak Yoga kecil kamu dulu." mama menjelaskannya.

"Benarkah ini, Ren?" apa...! Rendra yang selama ini aku kenal, Rendra yang selama ini jadi pacarku, adalah... adalah... kak Yoga.

"Iya..., namaku Rendra, Rendra prayoga. Aku kak Yoga kecil kamu dulu. Kak Yoga yang akan selalu berjanji untuk menjagamu sampai kapanpun." jelasnya.

"Ini..., ini adalah kado ulang tahunku yang paling terindah." ucap syukurku.

"Belum semuanya Ris, kamu mau gak aku jaga dan aku cintai setiap saat?" tanya Rendra.

"Maksudnya?" aku bingung.

"Risya..., mau gak jadi istri dari Rendra Prayoga..." Rendra melamarku.
  
Terpaksa aku jawab IYA.