Selasa, 19 Januari 2016

Jangan Lelah Menunggu Hingga Diujung Doa-Doa Kita

Jangan lelah menunggu. Jangan kecewa bila aku tak sesekali mengabarimu. Ketahuilah, bahwasannya saat ini aku masih terus memperjuangkan kamu. Masih berada disatu sisi kehidupan kamu. Meski kamu tak pernah memahami maksudku. Karena aku memang sungguh amat terlalu acuh tak acuh padamu. Biarkanlah sesaat aku menjadi lelaki yang ingin mencari cari kamu hingga titik terakhir. Hingga sampai berada diujung doa-doa kita.

Jodoh memanglah sebuah misteri. Jodoh adalah salah satu hal yang tak pernah bisa kita pahami. Karena hanya Tuhanlah yang menentukan semua. Begitu juga aku dengan kamu. Kita memang selalu berharap untuk bisa bersama mengarungi dunia ini dengan seiya dan sekata. Namun pahamilah, Sang Pencipta semesta masih menyembunyikan seseorang yang akan menemani kamu nanti, Begitu juga aku. Karena itu aku tak akan bisa memastikan untuk bisa memiliki kamu seutuhnya. Aku hanya sedang memperbaiki diri untuk bisa memantaskan diri menjadi pendampingmu.

Hey, seseorang yang kini masih menguasai hatiku. Kamu baik-baik ya disana. Bersabarlah. Kita masih sama-sama saling memperbaiki diri. Kita masih sama-sama saling mencari untuk dipertemukan. Karena hati kita masih terpaut dalam cinta yang sama. Aku yakin kamu akan terus bersabar menunggu. Sampai nanti. Sampai kita bertemu pada satu titik yang sama. Pada satu titik dimana hati kita bertemu di ujung pelangi yang berwarna jingga.

Aku senang jika kamu paham akan hal ini.  Meski kita sama-sama disibukkan dengan hari-hari kita. Aku punya harapan besar tentangmu. Kau pastinya ingin mengetahui hal itu ? karena Pastinya kau punya harapan yang sama denganku. Karena harapan besar aku terhadapmu itu adalah hanya ingin bisa menggenggam tanganmu sambil menatap indahnya malam di padang savana dan mengucapkan satu hal padamu. Bahwasannya aku sangat sangat ingin terus bersamamu hingga tua menaungi kita nanti.

Selasa, 15 Desember 2015

Lupakanlah Sedihmu Dan Lihatlah Aku

Tak mengerti mengapa aku masih tetap disini. Bahkan aku masih ingin terus bertahan hingga bajuku lusuh tak terarah. Aku tak ingin terlalu patah meski kau telah berkali-kali mematahkan hatiku. Menjadi jiwa yang bertahan pada satu harapan memang sulit. Sesulit aku menaklukan luka lama dalam hatimu. Kepahaman yang sulit aku pahami.

Jangan bersedih. Jangan memendam luka terlalu lama. Coba lihat disekelilingmu. Aku masih setia berdiri disini menemani kamu. Melihat semua kesedihan kamu dari balik keresahan-keresahanku menunggu. Ya, aku masih menunggu kamu. Masih ingin melihat kamu lebih lama. Masih berharap dengan senyum manis kamu yang telah lama hilang. Kau terlalu larut sejauh ini.

Apa yang selalu saja kau tangisi itu ? Masihkah pantas kamu menangisinya ? Tangis yang kau dera semakin membuat hatimu semakin patah. Aku mohon berhentilah. Hentikan semua pengharapan kamu padanya. Aku tak bermaksud melukai mimpimu. Menciderai semua keinginan kamu padanya. Tapi percayalah, kau akan semakin hancur. Lukamu semakin dalam. Dan aku juga akan semakin larut dalam sedihmu.

Aku memang bukan siapa-siapa. Aku tak lebih dari orang asing yang tiba-tiba hadir dan mengganggu ketenangan kamu. Aku memang tak pernah pantas bersanding padamu. Dia memang sungguh hebat. Dia yang telah membuat kamu dimabuk kepayang. Olehnya, seseorang yang saat ini kau rindu peluknya. Namun, aku tak minta banyak harapan darimu. Meski aku telah menamai kamu sebagai cinta. Aku tak akan pernah memaksa kamu untuk melakukan hal yang sama. Walau dalam lubuk hatiku yang terdalam. Aku masih ingin sekali bisa memetik senyum kamu dari kesedihan panjangmu yang berlarut-larut.