Jika pandemi ini berakhir, kemana kaki kita kembali akan berlabuh ?
Mungkin menikmati lagi dingin nya kabut yang menghujam tulang. menggunakan kembali sleeping bag. Dan mengunci rapat-rapat resleting tenda agar babi hutan tidak sembarang mengambil barang milik kita.
Atau Ingin berlari-lari kecil melewati gemericik ombak di pantai. Membuat jejak kaki di pasir putihnya yang tak berguna itu. Karena ombak dengan mudahnya menghapus jejak langkahnya.
Atau kita ingin flashback tentang sejarah para leluhur. Bagaimana candi-candi bisa terbentuk dengan begitu rapi dan mempesona. Menonton aksi-aksi pewayangan hingga terkantuk. Juga tentang bangunan museum-museum sejarah yang menambah wawasan di masa silam.
Apapun itu, kita mesti merunduk dan bermunajat. Agar semua pandemi ini segera berakhir. Bukan karena kita ingin kembali merasakan hal-hal yang tadi kita bahas. Tapi, untuk memohon ampun pada semesta, karena kita telah lupa bersyukur pernah merasakan hal itu, kemarin.
Rabu, 17 Juni 2020
Selasa, 24 Maret 2020
Kotaku Sedang Sakit
Kotaku terlelap. Biarkan dia tertidur pulas. Hujannya kali ini beraroma luka. Jangan biarkan dia terjaga. Karena esok kotaku masih dikarantina.
Bunga hujan itu bergumam, " Kotamu sedang sakit ". Bahkan, senja nya saja mencekam. Aroma antiseptik menjalar ke seluruh sudut kota. Membuatku mabuk.
Bunga hujan juga memberi kabar, di musim ini orang-orang takut apa yang dibagikan hujan. Mereka memilih bersembunyi dibalik masker. Di tempat yang sunyi. Mengasingkan diri. Kini, Berbicara dengan dinding pembatas adalah solusi ketenangan.
Kotaku tak lagi indah. Mimpi-mimpi di depan sana samar. Hanya sisa-sisa nafas yang tersendak. Semoga hanya sementara. Karena wabah, merenggut sebagian sehatnya.
Indonesia, 24 Maret 2020
Rabu, 07 Agustus 2019
Tentang Sebuah Kesalahan
Ada hal yang begitu jauh dari logika. Entah kenapa saat ingin mempertahankan. Saat itu pula takdir berkata lain. Saat raga ingin mulai mencinta namun semesta belum mengizinkannya.
Aku ikhlas. Apapun keputusan yang telah kamu ambil. Biar bagaimanapun ini menjadi yang terbaik untuk kita berdua. Hanya saja aku cemas. Sementara rindu menghantui setiap perjalananku.
Dan tentang sebuah kesalahan. Entah apa yang membuatmu terluka. Apa yang menjadi persoalan hatimu sehingga begitu rumit. Sedikitpun aku tak bisa menebak. Hanya berprasangka. Namun semakin aku menerka, semakin dalam lukamu. Aku heran, bahkan untuk melakukan sesuatupun, tubuhku seketika lumpuh.
Aku bukanlah penerka. Hatiku memang tidak pernah peka. Maaf jika itu kekuranganku. Dan jika semua itu membuatmu semakin terluka, aku ikhlas melepas semua. Sampai semua kembali normal seperti awal mula. Saat dulu kita pertama tak pernah jumpa.
Maaf untuk malam ini. Dan terima kasih atas kebaikan kamu selama ini.
Langganan:
Postingan (Atom)
