Rabu, 28 Desember 2016

Pertanyaan Ini Untukmu

Hey wanita berkerudung yang selalu aku ingat wajahnya. Aku teramat berdosa jika selalu mengingat-ingat kamu. Parasmu yang tak pernah bisa aku lepas membuatku selalu mengharapkan kamu.

Sifatmu yang teramat acuh membuatku merasa takut berada di dekatmu. Padahal aku hanya ingin mengenalmu. Aku hanya ingin bercengkrama denganmu. Bercerita panjang lebar hingga kau bisa melupakan semua keluh kesahmu itu. Jadi tersenyumlah. Buat aku merasa tenang untuk menyapamu setiap waktu.

Sebenarnya aku ingin sekali memperjuangkan kamu. Memberanikan diri untuk mengajakmu kesuatu tempat yang indah. Yang ingin sekali kau lihat. Yang membuatmu merasa tenang dalam sepi. Agar tak ada lagi wajah kusutmu yang menakutkan itu. Aku hanya ingin melihatmu ceria setiap waktu. Karena hanya dengan senyum kamu aku bisa menjalani hidup ini dengan semangat. Jadi kebayangkan bagaimana jadinya bila aku tak melihatmu tersenyum ?

Bolehkan aku bertanya satu hal kepadamu. Yang mungkin menurutmu, pertanyaan ini bukanlah hal yang teramat penting. Apa boleh, aku masuk ke dalam kehidupan kamu ? Memani hari-hari kamu ? Mungkin aku bukanlah orang yang begitu sempurna dimatamu. Tapi percayalah, Aku akan selalu berusaha membahagiakan kamu. Menjadikan kamu prioritas utama di hidupku. Dan jika 'BOLEH' adalah jawabanmu atas pertanyaanku. Aku pastikan, Akulah orang yang paling sangat  beruntung sedunia saat ini.

Jumat, 23 Desember 2016

Sendiri

Perlu aku beritahu sedikit. Karena aku masih saja sendiri. Mendoakan diriku sendiri. Bermain dengan hujan. Menari dalam rintiknya. Menghadapkan wajahku pada awan, merasakan derasnya menyentuh wajahku. Tentunya sendiri.

Jika musim semi telah kembali lagi, beritakan padaku. Ku mulai dengan jaket tebalku. Aku hanya ingin melihat daun-daun yang berguguran dipelataran taman. Juga arah angin yang menyibak rambutku.  Sesaat sungguh memualkan. Tentunya untukku sendiri.

Saat malam hadir. Mataku tetap terjaga. Tak ada alasan untuk itu. Hanya otakku yang masih ingin terus bekerja. Aku heran, Sesunyi ini kau masih saja sibuk bekerja. Kau hanya membuatku menderita. Tak ada alasan untuk menjawab komentar yang aku deru sendiri. Karena sunyi memaksaku berteman dengan alam liar. Dan tentunya aku masih saja sendiri.

Harusnya kau mengerti kenapa aku sangat akrab dengan sepi. Tak ada ketenangan meski terpenjara seorang diri. Karena rindu itu begitu amat menyakiti. Jika hujan, semi, dan malam adalah saksiku. Mereka tak akan pernah bisa membuktikan apapun. Karena sampai kapanpun, kau telah asik masyuk menikmati hangatnya pelukan itu. Tanpa perlu tahu tentang aku. Tanpa perlu paham dengan penderitaanku. Oleh sebab itu aku masih saja terhukum sendiri. Untuk terus menanti.

Rabu, 16 November 2016

Untuk Perempuan Yang Ingin Sekali Aku Temui

Untuk perempuan yang ingin sekali aku temui. Kamu memang tak pernah berada disisiku. Namun nyatanya serindu ini aku kepadamu. Sesekali rindu itu menyiksaku. Mencabik perasaan yang sedari dulu menyerang hatiku. Kamu, tak pernah mengerti apa yang aku rasa. Biar saja aku yang rasa.

Sempat aku ingin mentiadakan kamu dipikiranku. Mencoba menyibukkan diri. Travelling kesana kemari. Bersenda gurau dengan teman-teman. Hingga keinginanku mencari seseorang yang lain. Semua sudah aku lakukan. Namun nyatanya aku belum juga bisa move on darimu. Karena kamu seperti candu. Setiap saat memabukkan ragaku. Yang semakin hari semakin tak bisa lepas dari bayang-bayangmu.

Kalau berkenan bolehkah aku bersikap egois. Aku ingin sekali memaksamu bertemu. Mencoba menunggumu dipinggir jalan tempat biasa kamu melewatinya setiap lepas pulang bekerja. Aku ingin berdiri menghadangmu. Agar kau berhenti sejenak. Hanya untuk sekedar menemuiku. Memandang wajah yang tak pernah sekalipun ingin kamu melihatnya. Aku ingin sekali egois. Memaksamu berhenti dan duduk sebentar bersamaku. Aku hanya ingin bercerita panjang, juga meluapkan perasaan yang belum sempat aku bicarakan padamu. Jika aku diperkenankan untuk egois. Aku ingin sekali memaksamu untuk mencintaku sama seperti yang aku rasakan.

Cinta boleh saja buta. Namun aku masih ingin dalam keadaan yang nalar. Tak ingin bertindak memaksa. Apalagi terhadapmu. Namun, rindu merubah itikat baik itu menjadi lebih buruk. Tujuanku hanya satu, kamu. Karena kamu, Aku jadi lebih memberanikan diri. Karena kamu, rindu itu masih terus menjalar didalam darah. Karena itu, aku mohon kepadamu sekarang. Hanya untuk sekedar bertemu. Tak sulit bagimu. Perkara kau suka atau tidak, aku tak pernah peduli. Tugasku hanya untuk meyakinkanmu. Dan rindu yang sedari tadi menghantui, setidaknya berkurang saat aku bisa berjumpa denganmu.