Senin, 14 Maret 2016

Aku Ingin Menyapamu " Sayang "

Kemarin, aku mungkin sedang asik dengan duniaku sendiri. Kemarin, mungkin aku juga terlalu sibuk dengan keadaan. Padahal setahuku kau masih sedang berhenti tepat di ujung jalan menunggu aku. Mencari-cari yang ingin kau miliki hatinya. Mencari cinta yang sekilas menyiksa. Kau juga masih menyisakan satu tempat yang nyaman untuk bisa aku singgahi. Kau begitu setia tanpa lelah, tanpa mengharap lebih meski hatimu meratap. Menderita demi cinta yang kau jaga.

 Aku tak pernah menyangka kau bisa seperti ini. Aku juga tak ingin membuatmu menanggung beban yang begitu lama lagi. Beban yang terus menusuk ruang rindumu yang terdalam. Beban yang memang aku saja yang bisa mengobati semua. Maafkan atas semua kesibukan aku. Atas kelalaianku hingga kau terkatung-katung dalam rindu. Rindu yang begitu ganas mencabik perasaanmu setiap malam.

Kamu masih ingat waktu kita pernah berjalam dalam satu lintasan yang sama. Kamu ingat waktu kita berganti pesan facebook untuk saling mencaci. Kamu harus tau satu hal dariku. Semenjak aku mengenalmu kala itu, aku telah jatuh cinta kepadamu. Aku masih ingin selalu bersamamu dalam satu lintasan yang sama. Aku juga masih ingin mengirim pesan hangat meski aku sering mencelamu. Aku rindu itu seperti kau yang terus menerus merinduiku. Masih sama, masih seperti sedia kala. Dan rindu itu akan terus bersemayam bersama tubuhku yang mulai lelah.

Hei kamu. Kamu yang selalu merindukan aku disana. Bolehkah aku memanggil satu ungkapan terhadapmu. Jika diperkenankan ini akan menjadi tulisan paling indah bagiku. Karena aku ingin menyebutmu dengan satu sapaan mesra, "Sayang". Bertahanlah sayang. Bertahan sebentar lagi. Hingga nanti, hingga kau akan aku persunting didepan kedua orang tuamu nanti. Dan aku yakin, akan ada yang memanggilmu sayang disetiap menjelang malam dan datangnya pagi hari. Karena aku tak ingin lupa, bahwasannya rindu kita yang menyakitkan saat ini. Akan aku ganti dengan kata romantis setiap hari. Hanya untukmu, sayangku.

Kamis, 25 Februari 2016

Bertahanlah, Sampai Waktu Yang Akan Membunuh Rindu Kita Nanti

Maaf jika aku masih sering mengabaikan kamu. Aku masih saja terus berkutat dengan waktuku sendiri. Berkutat dengan kesibukan yang aku hadapi sendiri. Padahal kamu terus saja mengharapkan perhatian dariku. Sesekali kamu menyinggung tentang betapa begitu dinginnya diriku. Perasaan yang selalu saja kamu tunggu-tunggu. Perasaan rindu yang tiap kali memanggilmu hanya sekedar ingin bercengkrama denganku. Maaf jika hal itu masih belum bisa tercipta. Maaf juga jika penantianmu ini masih harus berjalan lebih lama lagi.

Sesungguhnya aku tak ingin membuatmu seperti ini. Aku juga tak ingin mengulur-ulur waktu lebih lama lagi. Bahkan aku ingin secepatnya bisa bersamamu. Aku juga sangat-sangat berharap kita bisa dipertemukan menjadi sepasang kekasih yang telah selama ini tak jua berjumpa. Aku hanya bisa menuntunmu untuk bersabar. Karena waktu yang akan menjawabnya. Karena cinta yang dalam tercipta dari satu rindu yang begitu teramat sangat. 

Memang benar menunggu adalah satu hal yang paling menjenuhkan. Aku paham tentang apa yang kamu tunggu-tunggu dariku. Apa yang selalu kamu harapkan dari aku. Bukan maksudku untung menggantungkan kamu saat ini. Hanya saja aku hanya ingin menuntunmu masuk kedalam waktu yang tepat. Karena disini aku juga masih terus memperjuangkan kamu. Sekuat tenagaku untuk sebisa mungkin membunuh rindu yang telah lama tertanam. Mengertilah, Semua ini butuh proses dan waktu. Tugasmu kali ini hanyalah berdoa dan tetap menunggu.

Tetaplah pada satu hati. Tetaplah menjadikan aku seseorang yang selalu mewarnai kerinduanmu. Disini, aku juga masih berada disudut yang sama. Aku masih menamaimu sebagai cinta didalam hatiku. Kamu masih jadi primadona cantik yang sedang kunanti-nanti. Bertahanlah sebentar saja. Sedikit lagi sampai saat-saat yang akan kita nantikan tiba. Meskipun aku tak pernah bisa menjanjikan apapun kepadamu. Tapi percayalah, Jika aku telah menjadi yang halal bagimu nanti. Aku akan membawamu kesuatu tempat yang indah. Hanya kita berdua saja. Meluapkan semua rindu yang telah selama ini bersandar mesrah seenaknya didinding-dinding hati kita.

Selasa, 19 Januari 2016

Jangan Lelah Menunggu Hingga Diujung Doa-Doa Kita

Jangan lelah menunggu. Jangan kecewa bila aku tak sesekali mengabarimu. Ketahuilah, bahwasannya saat ini aku masih terus memperjuangkan kamu. Masih berada disatu sisi kehidupan kamu. Meski kamu tak pernah memahami maksudku. Karena aku memang sungguh amat terlalu acuh tak acuh padamu. Biarkanlah sesaat aku menjadi lelaki yang ingin mencari cari kamu hingga titik terakhir. Hingga sampai berada diujung doa-doa kita.

Jodoh memanglah sebuah misteri. Jodoh adalah salah satu hal yang tak pernah bisa kita pahami. Karena hanya Tuhanlah yang menentukan semua. Begitu juga aku dengan kamu. Kita memang selalu berharap untuk bisa bersama mengarungi dunia ini dengan seiya dan sekata. Namun pahamilah, Sang Pencipta semesta masih menyembunyikan seseorang yang akan menemani kamu nanti, Begitu juga aku. Karena itu aku tak akan bisa memastikan untuk bisa memiliki kamu seutuhnya. Aku hanya sedang memperbaiki diri untuk bisa memantaskan diri menjadi pendampingmu.

Hey, seseorang yang kini masih menguasai hatiku. Kamu baik-baik ya disana. Bersabarlah. Kita masih sama-sama saling memperbaiki diri. Kita masih sama-sama saling mencari untuk dipertemukan. Karena hati kita masih terpaut dalam cinta yang sama. Aku yakin kamu akan terus bersabar menunggu. Sampai nanti. Sampai kita bertemu pada satu titik yang sama. Pada satu titik dimana hati kita bertemu di ujung pelangi yang berwarna jingga.

Aku senang jika kamu paham akan hal ini.  Meski kita sama-sama disibukkan dengan hari-hari kita. Aku punya harapan besar tentangmu. Kau pastinya ingin mengetahui hal itu ? karena Pastinya kau punya harapan yang sama denganku. Karena harapan besar aku terhadapmu itu adalah hanya ingin bisa menggenggam tanganmu sambil menatap indahnya malam di padang savana dan mengucapkan satu hal padamu. Bahwasannya aku sangat sangat ingin terus bersamamu hingga tua menaungi kita nanti.